Kamis, 20 Juni 2013

Nama : Indra Agro

Seorang Haji menaiki podium. Ia segera memperkenalkan diri: “Saya bukan Haji, tapi Mohammad Misbach, seorang Jawa, yang telah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci ke Mekah dan Medinah.
Saat itu, awal Maret 1923, adalah Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sarekat Islam (SI) di Bandung. Kongres itu juga dihadiri oleh dua komunis dari Sumatera Barat, yaitu Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin. Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin terkagum-kagum dengan pidato Misbach itu.
Meskipun bergelar Haji dan sudah pernah ke tanah suci, tapi Misbach tidak pernah mengenakan sorban ala Arab ataupun Peci ala Turki. “Misbach hanya mengenakan tutup kepala dan bergaul dengan rakyat apa saja,” kata Natar Zainuddin menceritakan tentang Misbach.
Misbach adalah seorang mubaligh berpendidikan pesantren. Ia dilahirkan di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dan dibesarkan sebagai anak seorang pedagang batik yang kaya raya. Mas Marco Kartodikromo, teman seperjuangannya, menggambarkan Misbach sebagai seorang yang ramah dan teguh kepada ajaran islam.
>>>
Dalam kongres itu, Misbcah boleh dikatakan tampil sebagai bintang. Ia tampil memukau di kalangan cabang-cabang PKI dan SI merah, terutama mereka yang masih memegang kuat kepercayaan terhadap agama.
Ketika baru membuka urainya, Haji Misbach langsung menusuk ke jantung persoalan. Ia berusaha menguraikan kesamaan kesamaan prinsip antara Qur’an dan Komunisme. “Quran, misalnya, menetapkan bahwa merupakan kewajiban setiap muslim untuk mengakui hak azasi manusia, dan pokok ini juga ada dalam prinsip-prinsip program komunis.”
Ia juga mengatakan, perintah Tuhan adalah kita harus berjuang melawan penindasan dan penghisapan. “Ini juga salah satu sasaran komunisme,” kata Misbach lebih lanjut.
Gagasan inilah kemudian yang disebut islam-komunis. “orang yang mengaku dirinya islam tetapi tidak setuju adanya komunisme, saya berani mengatakan bahwa mereka bukan islam yang sejati, atau belum mengerti betul-betul tentang duduknya agama islam,” kata Misbach.
Lama berbicara soal kesamaan komunisme dan islam, Misbach berganti topik. Ia mulai menyerang HOS Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam dan sekaligus bekas teman seperjuangannya semasa masih di SI.
Misbach menganggap SI di bawah pimpinan Tjokro telah memecah-belah gerakan rakyat dengan memberlakukan disiplin partai. Ia mengisahkan sebuah pertemuannya dengan Tjokro di atas kereta api, dimana pemimpin SI itu mengaku bahwa ide “disiplin partai” muncul atas kehendaknya.
Suara-suara teriakan peserta kongres pun terdengar keras. “Tjokro mau jadi raja! Uang SI kemana piginya (perginya)!” teriak seorang peserta kongres yang marah.
Bukan itu saja, Misbach juga menuding CSI, organisasi yang dibidani oleh Tjokro, telah bersekongkol dengan Muhammadiyah. Misbach menganggap organisasi yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan itu sebagai perkumpulan kapitalis, yang ketundukannya memang kepada kapital.
Di tengah-tengah Misbach mengeritik Tjokro dan SI, tiba-tiba seorang pemuda berusia belasan tahun naik ke podium. Pemuda itu adalah Soekarno, seorang murid Tjokroaminoto, yang kelak menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.
Soekarno meminta agar Haji Misbach segera meminta maaf kepada Tjokro karena telah melancarkan serangan bersifat pribadi kepada gurunya tersebut. Tjokro sendiri tidak hadir dalam kongres tersebut, tapi diwakilkan kepada Soekarno.
“Apakah tindakan seperti ini sesuai kesucian seorang ksatriya?” tanya Soekarno kepada Haji Misbach. Misbcah mengatakan bahwa ia bermaksud menyerang atau melukai hati Tjokroaminoto, tapi sekedar menjelaskan sikap pemimpin CSI itu kepada umum. Misbach kemudian meminta maaf kepada kongres.
Dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Soekarno: penyambung lidah rakyat Indonesia, Soekarno mengaku bahwa saat itu dia sudah berbeda pandangan politik dengan gurunya itu, namun ia tetap menjaga hubungan baik. “Orang Asia tidak menemui kesukaran untuk membedakan ideologi dengan peri-kemanusiaan.”
Soekarno menganggap Haji Misbach telah melakukan serangan serampangan terhadap Tjokroaminoto.
Menurut Takashi Shiraisi, penulis buku “zaman bergerak”, pemahaman Soekarno terkait serangan Haji Misbach terhadap Tjokro itu bersifat sembarangan. Pasalnya, menurut pakar sejarah Universitas Kyoto itu, serangan Misbach tidak ada sangkut-pautnya dengan Tjokro sebagai ksatria, melainkan keputusannya yang telah memberlakukan disiplin partai dan persekongkolan CSI dengan Muhammadiyah.
>>>
Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin terperangah ketika Misbach berpidato. Penjelasan tentang islam dan komunisme begitu memikat hatinya.
Segera setelah keduanya sudah kembali ke Sumatera Barat, mereka langsung menyiarkan pandangan-pandangan Misbach itu. Di Padang Panjang, ketika itu, sudah berdiri sebuah perguruan islam modernis, yaitu Sumatra Thawalib.
Salah satu pendiri perguruan ini, yaitu Zainuddin Labai, adalah pengagum berat bapak gerakan nasionalis Turki, Mustafa Kama (Kamal Attaturk). Ia menerjemahkan biografi Kamal dan mengajarkannya di sekolah Diniyyah. Meski berfikiran radikal, Zainuddin menentang muridnya menyerap ide-ide sekuler dan komunis, yang saat itu sedang digandrungi.
Haji Datuk Batuah segera berpropaganda soal islam dan komunisme di perguruan islam itu. Kebetulan, di dalam perguruan Thawalin itu sudah ada seorang komunis, yaitu Djamaluddin Tamin, yang kelak menjadi ketua Sarekat Rakyat dan pendukung Tan Malaka.
Ia bekerjasama dengan Haji Datuk Batuah mendirikan koran “Pemandangan Islam”, yang mengulas banyak soal keislaman, komunisme, dan perjuangan anti-kolonialisme dan anti-kapitalisme. Sedangkan Natar Zainuddin, yang kembali ke Sumatera Barat pada tahun 1923, segera meluapkan gagsan islam komunis melalui korannya: Djago! Djago!
Aktivitas Haji Batuah dan Natar Zainuddin tidaklah terlalu lama. Sebab, dua bulan setelah kepulangannya dari kongres PKI di Jawa, satu detasemen polisi bersenjata telah datang untuk menangkap keduanya.
Penasehat pemerintan Belanda ketika itu, R.Kern, membuat pernyataan menggemparkan: “Walaupun asisten residen Whitlau sudah mengemukakan bahwa pergerakan perlawanan akan padam setelah tertangkapnya Datuk Batuah dan Natar Zainuddin, setelah enam bulan pasca penangkapan itu orang komunis malah makin banyak dari yang sudah-sudah.”
Perkembangan Islam Abad XX Hingga Sekarang
Pada permulaan abad ke-20, Indonesia menghadapi tantangan moderenisasi yang juga di alami sebagian besar negara-negara di dunia. Respon terhadap wacana modernisasi yang mulai meluas pada tahun 1970-an, tidak lepas dari perhatian umat islam  di indonesia.  Menurut Greg Barton, fakta membuktikan bahwa  sepanjang tahun 1970-an, 1980-an dan berlanjut hingga kini, Indonesia telah menyaksikan sebuah kebangkitan islam yang amat progresif dan begitu memiliki masa depan’’. Kebangkitan tersebut, secara substansial di gerakan oleh gerakan intelektual yang memunculkan gagasan pembaharuan pemikiran islam.  Sebenarnya gerakan  islam yang berasal dari gagasan pemikir-pemikir islam atau pemurnian ajaran agama islam, telah menjadi wacana para cendikiawan muslim Indonesia  sejak pengaruh gerakan pembaharuan Islam di Timur Tengah ( terutama Mesir ) meluas hingga ke Indonesia.
Hingga paruh pertama abad ke-20, pusat-pusat studi Islam tertinggi bagi kalangan masyarakat Muslim Nusantara masih berada di wilayah Timur Tengah, khususnya Mekah, Saudi Arabia, sebelum akhirnya bergeser ke Kairo, Mesir. Dalam fenomena perkembangan sosial intelektualisme Islam indonesia tersebut, yakni pemikiran Islam pada abad ke 20 dengan tokoh Muhammad Rasyid Rida.
Muhammad Rasyid Ibn Ali Rida Ibn Muhammad Syamsudin Al-Qalamuny. Ia lahir di desa Qalamun dekat kota Tripoli daerah Syiriah (Syam), pada tanggal 27 Jumadil Ula 1282 H/ 1865 M. Ia berasal dari keturunan cucu Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu ia memakai gelar Al-Sayyid di depan namanya. Ia wafat bulan Agustus 1935, setelah kembali mengantarkan Pangeran Su’ud ke kapal Suez.
Masa kanak-kanaknya, banyak digunakan untuk belajar membaca Al-Qur’an menulis dan dasar-dasar berhitung di Madrasah Tradisional di kampungnya. Kemudian ia melanjutkan belajar ke sekolah Rasyidiyah, sebuah sekolah milik pemerintah Tripoli yang bertujuan untuk menyiapkan pegawai pemerintahan Turki. Setelah satu tahun belajar disini ia keluar karena tidak berminat untuk menjadi pegawai pemerintah. Selanjutnya ia belajar di Madrasah Al-Wathaniyah yang dipimpin oleh seorang ulama modernis, yakni Syekh Husein Al-Jisr. Ulama inilah yang berpengaruh besar bagi perkembangan intelektual Rasyid Rida, disamping pengaruh ide-ide Jamaludin Al- Afghanimaupun Muhammad Abduh. ketika majalah Al-Urwatul Wutsqa yang diterbitkan Al-Afghani dan Abduh di Paris sampai ditangannya, ia selalu mendiskusikan dengan gurunya Al-Jisr. Majalah ini telah menjadi penggugah semangat pembaharuan dan perjuangan dalam dirinya.
Rasyid Rida bertemu dengan Muhammad Abduh berusaha meyakinkan tentang perlunya menerbitkan suatu majalah sebagai media sosialisasi gagasan pemberitahuan, sehingga terbitlah Al- Manar. Tujuan penerbitnya sama dengan Al-Urwatul Wutsqa yaitu mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi, memberantas takhayul dan bid’ah-bid’ah yang masuk kedalam tubuh umat islam, menghilangkan faham fatalisme yang terdapat dikalangan umat Islam dan faham tarekat yang salah, meningkatkan mutu pendidikan dan membela umat Islam dari permainan politik dunia Barat. Disamping itu Rasyid Rida juga meminta Muhammad Abduh untuk melakukan tafsir modern terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dimuat dalam majalah Al-Manar yang selanjutnya tulisan inilah yang dijadikan kitab Tafsir Al- Manar.
 Secara spesifik gagasan pembaharuannya dapat dikelompokkan pada tiga bidang, yakni : bidang keagamaan, pendidikan, dan bidang politik kenegaraan.
Bidang keagamaan ia berpendapat bahwa umat islam harus kembali lagi pada ajaran Islam yang murni yang terbebas dari segala bid’ah yang keluar dari ajaran Islam, yaitu faham tarekat yang berlebihan maupun faham fatalisme. Untuk itu, umat islam harus mampu memadukan antara ajaran-ajaran spiritual agama dengan masalah keduniaan. Menganti sikap fatalis yang hanya menggantung diri pada nasib, dengan sikap jihad, dinamis dan memfungsikan kembali akal untuk memahami teks-teks Al-Qur’an dan Hadits serta membina sikap toleransi diantara berbagai aliran mahzab dalam islam.
Bidang pendidikan, ia menekankan perlunya umat Islam menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang menjadi dasar kemajuan Islam pada periode klasik di Spanyol dan Barat saat ini. Kalau umat Islam sekarang ini mengambil peradaban Barat sebenarnya adalah upaya mengambil kembali khasanah peradaban Islam yang pernah dimilikinya. Cara mengambil peradaban Barat tersebut adalah melalui jalur pendidikan. Karena itu, perlu mendirikan lembaga pendidikan , bahkan menurutnya mendirikan lembaga pendidikan adalah lebih baik dari pada membangun masjid. Untuk itu, ia mengharapkan agar dilakukan pembaharuan pendidikan Islam. Adapun segi-segi pembaharuan dalam pendidikan yang terpenting adalah memberikan kesempatan memperoleh pendidikan bagi kaum wanita disamping aspek penyelenggaraan pendidikan seperti struktur, metode maupun kurikulum pendidikan. Dalam hal kurikulum menurutnya, perlu ditambah dengan mata pelajaran teologi, pendidikan moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, ilmu hitng, ilmu kesehatan, bahasa asing, dan dengan ilmu-ilmu agama lainnya.
Bidang politik kenegaraan, ia berpendapat bahwa kebangsaan tidaklah dalam arti kesamaan bangsa atau bahasa, melainkan dalam arti kesatuan umat atas dasar keyakinan yang sama yaitu Islam. Oleh sebab itu ia tidak setuju dengan faham nasionalisme, seperti yang di introdusir oleh gerakan nasionalisme Turki yang dipelopori oleh Turki Muda, ia menganjurkan pembentukan organisasi Al-Jamiat Islamiyah di bawah khalifahnya, yang berlandaskan prinsip persaudaraan islam yang terbebas dari ikatan rasialisme semua umat islam bersatu dibawah keyakinan, sistem moral, sistem pendidikan dan satu sistem hukum. Hukum dan undang-undang tidak dapat dilaksanakan tanpa kekuasaan pemerintah. Oleh sebab itu kesatuan umat islam perlu mengambil bentuk negara, yaitu negara ke khalifahan dan kepala negaranya adalah seorang khalifah.
            Khalifah karena mempunyai kekuasaan legislatif maka ia harus seorang mujtahid, tidak absolut, dan dibantu oleh para ulama dalam memerintah masyarakat. pemeliharaannya dilakukan oleh Ahl al-Hall wa al-Aqd, yakni suatu dewan yang menampung aspirasi masyarakat dari berbagai bidang baik dalam hal disiplin ilmu maupun dari segi pekerjaan. Dewan ini bertugas memilih dan mengawasi jalannya pemerintahan, agar tidak  terjadi penyelewengan dan penyimpangan.

REFERENSI :
·         Nasution, Harun. 1996. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: PT. Bulan Bintang

·         Razak, Yusron, Dkk. 2001. Pendidikan Agama. Jakarta: UHAMKA Press

Selasa, 11 Juni 2013

Jika kami berbeda, dosakah?

Jika Tuhan menjadikanmu berbeda keyakinan denganku, apakah Tuhan juga akan menjadikanmu bukan milikku? Jika agama mengajarkan kebaikan, lalu mengapa agama mengharuskan perpisahan? Sedangkan pada dirimu kulihat kebaikan?
Jika harus bersama dia yang sama keyakinan tanpa cinta dan kasih sayang, apa itu bentuk kebaikan ajaran agama?
Tuhan kami sama-sama satu, kami hanya berbeda perantara. Bukankah Tuhan penuh cinta dan kasih sayang? Kenapa kami dipisahkan karena perbedaan agama?
Tuhan menyuruh kita menikah karena agama dan takwa. Jika agamanya dan agamaku memiliki Tuhan yang sama, kenapa kami tetap tak boleh bersama?
Jika agama kami berbeda nama, namun Tuhan kami tetap sama kenapa manusia masih membedakan nama? Bukankah cinta kami kehendak Tuhan juga?
Kami dipisahkan aturan manusia atas nama aturanmu, Tuhan. Kami tak tahu harus mengadu kemana selain kepadamu. Namun, mereka masih saja tetap tak peduli pada hati.
Lalu dipaksakan kepada kami pasangan seagama yang tak kami cintai.
Jika kami menuruti kehendak mereka lalu menikah tanpa rasa di hati, apa Tuhan merestui pernikahan kami?
Apakah pernikahan yang dipaksakan atas nama kebaikan agama ini sebuah kebaikan? Apa memisahkan dua orang yang saling mencintai itu sebuah kebaikan?
Aku mengadu pada Tuhanku, pun ia pada Tuhannya, Tuhan kami yang Esa. Kami menangis tanpa mampu memberontak. Kami menyayangi Tuhan kami.
Mereka bilang salah satu dari kami harus pindah agama. Apa itu menyelesaikan masalah? Apa itu sebuah solusi? iman kami ada di hati, bukan di KTP!
Jika kami harus terusir, maka usirlah kami. Bukan mengusir kami dari Tuhan kami. Ijinkan kami menyayangi Tuhan kami dengan iman kami.
Mereka bilang kami akan masuk neraka, ditolak surga. Kami hanya ingin saling mencintai, memiliki. kami menyayangi Tuhan kami. Biarkan Tuhan kami yang menentukan.
Kami menyayangi Tuhan kami bukan karena imbalan, surga pun neraka. Cinta kami pun bukan untuk diperjualbelikan atas nama agama. Jangan paksa kami menjual iman dan Tuhan kami.
Kini kami terpisah dan kalian tetap tak peduli. Kalian tak peduli betapa hancurnya perasaan kami. Kalian tertawa atas nama agama.
Tuhan, mereka bilang ini kehendakmu. Kami tak yakin kau mempertemukan kami hanya untuk sebuah penderitaan. Kami percaya padamu.
Kami percaya kau maha menyayangi. Kami percaya kau menyayangi hambamu yang menyayangimu. Perbedaan ini hanyalah baju, bukan hati kami dimana iman kami memujamu.
Jika perpisahan ini pun kehendakmu, maka jagalah kekasihku. Jagalah hatinya dari rasa duka karena perbedaan ini. Tuhan, lindungi dia.
Tiap tetes airmatanya bukanlah kesedihan karena kami tak bisa bersama, Tuhan. Tapi karena mereka membedakanmu atas nama agama.
Tuhan, kau mengetahui apa yang terbaik bagi kami. Jika kami lancang saling mencintai, maka jangan kau berikan rasa seperti ini kepada orang lain.
Cukuplah kami yang merasakan cinta seperti ini. Cukuplah mereka membedakanmu karana nama agama yang berbeda. jangan lagi ada kepedihan seperti ini.
Kami tahu, tak ada solusi selain kami disuruh berpisah, bersabar atau menjual agama kami. Sekali lagi, tidak! Biarkan kami saling mencintai dengan cara kami.
Silahkan bilang kami bodoh, bebal atau apa pun. kami menyayangi Tuhan kami, kami pun salin menyayangi satu sama lain. Biarkan kisah kami menjadi dongeng duka.
Agar cukup kami yang meneteskan airmata kepedihan. Karena perbedaan yang dibuat manusia. Atas nama surga dan neraka pun atas nama Tuhan.
Tuhan, kami titipkan rasa ini kepadamu. Darimu semua berawal, rasa ini pun milikmu. Ijinkan kami menikmatinya kelak di kebun cintamu.
Kami tak menyesal saling mencintai dan menyayangi. Bukankah engkau yang mengajarkan kami rasa itu? Tuhan, kau tahu kami memujamu, yang Esa.
Jika takdir kami harus seperti ini, maka kami menerimanya dengan kepatuhan karenamu. Bukan karena mereka yang meributkan nama agamamu.
Kekasihku, mungkin ia kini tersudut sepi dihimpit duka. Tuhan, beri ia keteduhan. Yakinkan semua ini kehendakmu. Aku mohon, Tuhan. Beri ia hati yang lapang. Untuk memahami bahwa cinta kami adalah kehendakmu, sebagai kisah untuk mereka yang saling mencintai namun berbeda agama.
Tuhan, maaf jika aku terlalu banyak menyebut namamu untuk masalah kami yang tak sepatutnya membawa-bawa namamu yang suci itu.
Dan mereka yang selalu membedakanmu karena nama agama, beri mereka kebaikan dan kasih sayangmu.
Selamat malam Tuhan, kami menyayangimu.
-karena cinta aku ada.